Wisata Edukasi Adik-adik SAD

Home » Wisata Edukasi Adik-adik SAD
Wisata Edukasi Adik-adik SAD

Wisata Edukasi Adik-adik SAD

Minggu, 11 April 2021, adik-adik Suku Anak Dalam yang bermukim di desa Dwi Karya Bakti, kecamatan Pelepat, kabupaten Bungo, sangat antusias setelah mendapat izin dari para orangtua mereka untuk melakukan perjalanan wisata. Bertepatan dengan hari libur sekolah, pendamping akan mengajak adik-adik SAD dari rombong Hari dan rombong Badai tersebut untuk melakukan kegiatan wisata edukasi ke Taman Wisata Athaya Garden, Bungo. Mereka merupakan siswa SD, SMP dan SMK yang akan berekreasi dan bermain sambil belajar. Mengedukasi adik-adik SAD dengan memperlihatkan keindahan alam beserta dengan beberapa jenis tumbuhan dan satwa asli Indonesia yang terdapat di taman wisata tersebut, sehingga mereka bisa mengenal secara dekat dan mengamati langsung.

Kedatangan rombongan ini disambut baik oleh pihak taman wisata karena mereka menerima tamu istimewa yakni adik-adik SAD dari Pelepat. Mereka sangat mengapresiasi kegiatan ini dan merasa bangga dengan adik-adik SAD yang mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi. Dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, petugas taman wisata dengan senang hati mengajak mereka berkeliling taman untuk melihat dan belajar tentang apa saja yang ada di sana. Memanjakan mata dengan kebun bunga, pohon sakura dan sebagainya. Asyiknya belajar sambil berwisata, mengenal beberapa jenis hewan seperti ayam mutiara, kelinci, burung, satwa lainnya. Tak lupa ketua rombong mereka yaitu Temenggung Hari dan Badai selalu mendampingi adik-adik SAD tersebut selama berwisata.

Dalam rombongan wisata edukasi ini, Badal dan Kuneng adalah anak yang paling berbahagia. Pasalnya mereka berdua baru saja kembali ke pemukiman setelah hampir setahun memilih menetap di hutan bersama kedua orangtuanya. Selama itu pula mereka meninggalkan rumah, lingkungan tempat tinggal dan sekolah. Hampir setahun lamanya menetap di hutan, membuat kehidupan Badal dan Kuneng semakin jauh dari zona edukasi yang biasa mereka rasakan sehari-hari bersama anak didik yang lain ketika belajar sekolah alam di pemukiman.

Sebelum bergabung dengan rombongan wisata, Badal dan Kuneng sempat bimbang antara memilih ikut atau tinggal, namun kepada siapa lagi mereka harus bersandar jika memilih tinggal? Setengah hati Badal dan Kuneng masih memikirkan nasib sekolahnya yang baru saja menginjak bangku kelas II, di SD 198/II Dwi Karya Bhakti, yang mana  akan berujung pada pemberhentian jika menuruti ego orangtuanya. Lantas di satu sisi pula, kedua pilihan ini adalah hal yang sama di mata Kuneng dan Badal, yaitu sama-sama demi berbakti kepada orangtua. Bertahan dengan suasana baru tanpa tahu kapan waktu pulang dan jauh dari keramaian membuat kehidupan mereka menjadi semakin mandiri. Akan tetapi orangtua Badal dan Kuneng sempat berkata pada temenggung Badai bahwa mereka berjanji akan pulang jika sudah memiliki cukup uang. Pada akhirnya waktupun menjawab bahwa mereka harus kembali ke pemukiman dan bersekolah.

Di hari yang menyenangkan ini, tampak dua sosok anak mengenakan pakaian kaos merah dan abu-abu datang menghampiri salah seorang pendamping mereka  ̶ fasilitator lapangan Pundi Sumatra ̶  Alan, dan berkata “Kak awok aa lah belek, kamia ndok samo mikai pogi bejejelon” (Kak kita sudah balik/pulang, kami ingin ikut kalian pergi jalan-jalan). Badal dan Kuneng pun ikut bersama rombongan wisata. Selain itu, sekolah juga masih memberikan toleransi kepada Badal dan Kuneng untuk bisa mengenakan seragam dan kembali melanjutkan pendidikan. Pada hari ini semua anak merasa senang dengan pulangnya Badal dan Kuneng. Mereka terlihat memancarkan semangat baru dan kembali melanjutkan perjuangan menuju masa depan sehingga kami sepakat di hari spesial ini juga kami persembahkan untuk mereka berdua.