Apa Kabar Badak Selatan?

Home » Apa Kabar Badak Selatan?
Apa Kabar Badak Selatan?

Apa Kabar Badak Selatan?

Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dengan luas 125.631,31 Ha, terbentang di ujung Selatan Pulau Sumatra, tepatnya di Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung.  Di bagian barat kawasan konservasi ini berbatasan langsung dengan pemukiman penduduk yang disebut sebagai desa penyangga, dan di bagian timur berbatasan langsung dengan laut Jawa. Bentang alam tropis ini menyimpan keanekaragaman hayati dan menjadi rumah bagi beberapa satwa kharismatik seperti badak Sumatra (Dicerorhinus Sumatrensis), harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae) dan gajah Sumatra (Elephas Maximus Sumatrensis). Dari ketiga spesies terancam punah tersebut badak Sumatra paling mendapat sorotan mengingat populasinya sudah berada di zona kritis dan terancam punah, dan masuk dalam kategori “Critically Endangered” oleh IUCN (IUCN’s Red List of Threatened Species) sejak tahun 1996. Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bahkan telah menetapkan Rencana Aksi Darurat (RAD) penyelamatan populasi badak Sumatra 2018–2021, melalui keputusan Dirjen KSDAE Nomor: SK.421/KSDAE/SET/KSA.2/12/2018 tanggal 6 Desember 2018.

Berdasarkan rilis Balai TNWK, populasi badak Sumatra di bentang alam Way Kambas saat ini diprediksi berjumlah sekitar 18-20 individu. Perkiraan populasi badak di alam liar tersebut  berdasarkan hasil analisis data sekunder berupa bekas jejak, pelintiran, kotoran, bekas/sisa makanan, serta kubangan. Sedangkan dari pantauan kamera jebak, badak sumatra terlihat terakhir kali pada tahun 2019, hingga saat ini belum ditemukan lagi badak di Way Kambas secara visual. Ini jelas sangat mengkhawatirkan mengingat di Sumatra Rhino Sanctuary (SRS) hanya ada 7 individu saja.

Pada tahun 2021 ini untuk Siklus Hibah 7, Konsorsium Yayasan Badak Indonesia (YABI) dan Aliansi Lestari Rimba Terpadu (ALeRT)  telah memperoleh dukungan pendanaan dari Tropical Forest Conservation Action (TFCA Sumatera) untuk Program Penyelamatan Habitat dan Populasi Badak Sumatra (Dicerorhinus Sumatrensis) sebesar Rp. 16.487.570.850 di Taman Nasional Way Kambas dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Pundi Sumatra selaku Fasilitator Wilayah Tengah dan Selatan merupakan perpanjangan tangan dari Administrator TFCA Sumatera, diberi mandat untuk mengasistensi dan memonitoring program mitra-mitra, termasuk tentunya Konsorsium YABI-AleRT ini yang akan melaksanakan 4 program utama, sebagai berikut:

  1. Menyelamatkan badak sumatra di TNBBS dengan cara menangkap dan memindahkan seluruh individu ke SRS TNWK.
  2. Pengamanan populasi badak sumatra dan habitatnya di TNWK melalui patroli super intensif.
  3. Upaya peningkatan variabilitas genetik 3 badak sumatra (2 betina dan 1 jantan) di SRS TNWK
  4. Pengembangan teknologi reproduksi berbantuan atau Assisted Reproduction Technology (ART).

Upaya paling realistis yang bisa dilakukan saat ini adalah fokus pada penyelamatan populasi dan habitat badak di Way Kambas. Kegiatan ini bukan tanpa alasan, mengingat populasi badak terancam punah; sedang untuk populasi di Sumatra Rhinos Sanctuary sendiri hanya terdapat 7 ekor. Upaya meregenerasi ini lah yang tengah di perjuangkan meski variabilitas genetik terbilang rendah, mengingat 5 dari 7 individu badak yang ada tersebut adalah kerabat dekat. Dukungan TFCA-Sumatera merupakan wujud komitmen untuk menemukan kembali badak di habitatnya dan melestarikan individu tersisa. Dukungan dana yang besar, keterlibatan tenaga ahli, dan kerjasama dari pihak-pihak yang berkompeten diharapkan dapat menyelamatkan populasi badak tersisa.