Kopi Petik Merah dari Serampas

Home » Kopi Petik Merah dari Serampas
Kopi Petik Merah dari Serampas

Kopi Petik Merah dari Serampas

Rumah produksi Serampas Coffee berdiri di antara rumah penduduk Desa Rantau Kermas, Kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin, Jambi. Merupakan salah satu unit usaha BUMDes Rantau Kermas yang dibentuk pada tahun 2015 oleh kelompok pengelola hutan adat. BUMDes dan hutan adat merupakan program KKI Warsi yang didukung oleh TFCA-Sumatera yang dimonitoring dan asistensi oleh Pundi Sumatera.

Sejak badan usaha Serampas Coffee dibentuk, peran yang dimainkan adalah peningkatan kapasitas dan kualitas produksi petani kopi Rantau Kermas. Selain itu Serampas Coffee juga meneroka jalan menuju pasar nasional, guna memperkenalkan kepada masyarakat luas bahwa kopi Serampas juga memiliki kualitas dan cita rasa yang bagus. Dan pada Maret 2020 melalui pendanaan berupa modal dari TFCA-Sumatera, Serampas Coffee mulai membenahi dirinya dengan membuat rumah penjemuran/green house.  Bertujuan untuk menampung panen petik merah/red cherry dari petani kopi Rantau Kermas yang sudah mulai menunjukkan hasil positif setalah proses sosialisasi tentang budidaya, panen, dan pengolahan pasca panen dalam kurun waktu lima tahun.

Akan tetapi ada permasalahan baru namun klasik; di saat petik merah dari petani Rantau Kermas semakin banyak, rumah produksi Serampas Coffee tak sanggup membeli semua hasil panen tersebut karena terkendala modal. Maka pada Agustus 2020, TFCA-Sumatera memberikan pendanaan berupa modal bagi rumah produksi Serampas Coffee yang langsung digunakan untuk membeli hasil panen kopi petik merah dari warga desa yang berjumlah 80 orang, sedangkan pemasok utama yang sudah membangun kemitraan dengan rumah produksi Serampas Coffee adalah Kelompok Wanita Tani Hutan Lestari yang anggotanya ada 28 orang. Pembelian pay cash ini sangat penting karena dapat memutus satu mata rantai pasar yang berperan sangat dominan: pengepul. Salah satu kelemahan pada titik ini adalah tidak adanya proses sortir terhadap hasil panen kopi dari petani, karena pengepul tersebut hanya mementingkan kuantitas. Sehingga kopi Serampas yang sebenarnya punya cita rasa tersendiri, dijual ke pasar nasional sebagai kopi konvensional yang diperlakukan dengan asalan. Selain itu, harga yang ditawarkan pengepul juga kurang bersaing, cenderung di bawah harga pasar. Dengan adanya kesempatan memutus mata rantai pasar itu, rumah produksi Serampas Coffee saat ini telah memasarkan produknya ke Melati Swalayan di kabupaten Bangko, dan sudah ada perjanjian kerjasama dengan PT. Sari Tirta Indonesia di Jakarta.

Inilah salah satu alasan kenapa unit usaha kopi harus ada di desa Rantau Kermas. Pembelian cash untuk kopi petik merah dengan harga bersaing ini jelas sangat membantu petani. Selain itu proses penyortiran green bean juga bisa menjadi pekerjaan sampingan bagi kaum perempuan yang tidak ke kebun. Dengan meningkatnya penghasilan petani kopi dari penjualan red cherry dan adanya tambahan pendapatan dari proses penyortiran manual, diharapkan perekonomian petani kopi khususnya dan warga desa Rantau Kermas umumnya menjadi lebih baik dan sejahtera.

Ekonomi memang menjadi sektor yang sangat vital, dan alasan warga desa membuka lahan baru di kawasan taman nasional pun bisa dipukul-ratakan adalah ekonomi. Maka dukungan yang diberikan TFCA-S terhadap program-program KKI Warsi di desa Rantau Kermas –salah satunya pendanaan untuk rumah produksi Serampas Coffee– jelas sangat membantu petani. Dengan adanya pembelian cash terhadap hasil panen dan sosialisasi tentang budidaya kopi, warga desa bisa meningkatkan pendapatan mereka dengan lahan yang sudah ada, dan tetap menjaga kelestarian hutan adat sehingga tekanan terhadap Taman Nasional Kerinci Seblat bisa dikurangi.

Share: