Saat Listrik Menyapa Pematang Kejumat - Pundi Sumatra
Saat Listrik Menyapa Pematang Kejumat

Saat Listrik Menyapa Pematang Kejumat

“Setidaknya kini komunitas Suku Anak Dalam bisa melangkah lebih maju dengan masuknya listrik ke lokasi. Anak-anak tak perlu belajar dengan cahaya yang redup,”

“Bang Arief, maelah belajo pulek (Bang Arief, ayo belajar)”, kata Aladin dari balik pintu kamar Arief. Arief yang menjadi staf pendamping Pundi Sumatra sudah hafal betul kebiasaan anak-anak dari komunitas Suku Anak Dalam (SAD) yang ia dampingi ini. Jika malam telah tiba, mereka akan memanggil Arief untuk membantu mereka mengerjakan tugas sekolah setelah sore hari dihabiskan dengan bermain. Arief segera keluar usai membersihkan diri dan sembahyang di dalam kamarnya.

“Ngapo dak dari sore tadi?”, jawabnya di muka pintu. Anak-anak kecil itu hanya menyeringai dan tertawa. Arief sadar bahwa hanya dirinya yang bisa diandalkan oleh anak-anak tersebut dalam membantu tugas sekolah. Orang tua mereka sebagian besar tidak mengenyam bangku pendidikan sehingga belum mampu mengajari anak-anak mereka menyelesaikan tugas sekolah. Beberapa bahkan ada yang buta huruf.

Arief segera membentang tikar rumbai di tengah aula permukiman SAD. Anak-anak tersebut mengikutinya dengan membuka meja belajar lipat pemberian orang-orang baik yang peduli dengan pendidikan mereka. Saat itu bulan tidak terlalu terang karena langit tertutup awan, kebetulan pula lampu dari panel surya di ruangan tersebut hanya mampu berpendar redup, namun tugas sekolah harus selesai malam ini.

Pakai lampu dari hp saja ya,” saran Arief kepada mereka. Ruangan aula menjadi lokasi mereka belajar bersama hampir setiap hari. Selain itu, bangunan dengan luas 48 meter persegi itu juga kerap menjadi lokasi pertemuan untuk kegiatan-kegiatan yang berlangsung di permukiman.

Pertemuan bersama warga di Aula Pertemuan. Dok: Bestamir Arief/Pundi Sumatra
Pertemuan bersama warga di Aula Pertemuan. Dok: Bestamir Arief/Pundi Sumatra

Tentu saja, lampu dari panel surya tidak terlalu terang untuk menyinari ruangan tersebut. Bila ingin menghidupkan genset juga diperlukan modal yang cukup besar bagi komunitas SAD. Sepuluh liter solar dengan harga sekitar Rp. 70.000,00 hanya mampu menerangi lokasi tersebut dari petang hingga tengah malam.

Pematang Kejumat, menjadi salah satu lokasi permukiman SAD di Kabupaten Sarolangun yang tidak tersentuh oleh penerangan listrik. Lokasi dampingan Pundi Sumatra ini berada di Kelurahan Limbur Tembesi, Kecamatan Bathin VIII, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi. Sejak tahun 2019, kementrian Sosial RI telah membuatkan perumahan semi permanen bagi komunitas SAD di atas lahan yang dibeli oleh Yayasan Mitra Sriwijaya Sarolangun. Total ada 17 Kepala Keluarga yang mendiami perumahan tersebut.

Lokasi permukiman Pematang Kejumat. Dok: Pundi Sumatra
Lokasi permukiman Pematang Kejumat. Dok: Pundi Sumatra

Pada tahun 2021, PT Indomarco Prismatama melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) memberikan bantuan infrastruktur di lokasi ini berupa pembangunan gedung aula, 2 unit MCK komunal, dan panel surya di setiap rumah. Namun sayangnya, panel surya tidak mampu memenuhi kebutuhan listrik keluarga, yang hanya mampu menghidupkan 2 bohlam redup di tiap rumah.

Kalau ngecas hp pun lama sekali penuhnya,” keluh Jaini, salah satu kepala keluarga di sana. Kondisi ini juga membuat mereka tidak bisa menikmati aktivitas rumah tangga harian. Jaini bercerita bahwa mereka harus mengambil air dari Sungai, karena tidak selalu mampu membeli bahan bakar untuk menyalakan genset agar dapat menarik mesin air dari sumur yang ada. Genset juga kerap rusak, karena pemakaian yang sudah cukup tinggi.

Upaya Advokasi Para Pihak

Banyaknya keterbatasan yang dihadapi pada lokasi tanpa listrik membuat Pundi Sumatra melakukan upaya advokasi kepada OPD terkait di Kabupaten Sarolangun. Memasuki tahun kedua pendampingan, tepatnya pada pertengahan tahun 2023, Arief mulai mengunjungi Dinas Sosial dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Sarolangun untuk mencari solusi dari permasalahan listrik tersebut. Namun ketiadaan anggaran membuat permasalahan tersebut belum dapat diatasi secara cepat.

Hingga pada Agustus 2023, saat Pj Bupati Sarolangun Bachril Bakri mengunjungi lokasi Pematang Kejumat untuk pembagian sembako, Arief menggunakan kesempatan tersebut untuk melakukan diskusi di sela-sela kunjungan beliau. Bachril Bakri menyarankan agar Pundi Sumatra membuat surat permohonan pemasangan Jaringan Listrik yang ditujukkan ke PLN Bangko; serta menemui PLN UP3 Muara Bungo selaku unit pelaksanaan pelayanan pelanggan. Hasil koordinasi tersebut adalah PLN dapat memfasilitasi pemasangan jaringan listrik baru, dengan ketentuan ada pembayaran biaya pemasangan, biaya penerbitan Nomor Induk Data Instalasi (NIDI), penerbitan Sertifikat Laik Operasi (SLO) yang akan digunakan sebagai syarat mendaftar ke PLN.

“Untuk tiang, penambahan gardu dan jaringan kabel menuju lokasi itu gratis dari PLN,” ucap Arief menirukan jawaban dari pihak PLN. Namun warga dikenakan biaya pemasangan listrik baru dengan daya 900 VA adalah sekitar Rp 950.000, belum termasuk pengurusan SLO, NIDI, dan instalasi jaringan rumah warga. Tentu ini adalah jumlah yang sangat besar bagi komunitas SAD di sana.

Koordinasi dengan PLN Bangko. Dok: Pundi Sumatra.
Koordinasi dengan PLN Bangko. Dok: Pundi Sumatra.

“Kami dak sanggup kalau bayar segitu, Pak,” ucap Tumenggung Juray.

Langkah yang kemudian Pundi Sumatra lakukan adalah mengajak pihak gereja (Yayasan Mitra Sriwijaya) untuk berembuk. Melalui Domi selaku pendamping gereja, Yayasan Mitra Sriwijaya setuju untuk membantu menanggung biaya pemasangan instalasi jaringan listrik di setiap rumah serta biaya penerbitan NIDI dan Sertifikat SLO yang akan digunakan sebagai syarat mendaftar ke PLN. Sedangkan untuk pembayaran biaya pemasangan jaringan baru, menjadi tanggung jawab Pundi Sumatra untuk mengupayakannya.

Pada Desember 2023, Pundi Sumatra berinisiatif menjajaki Balai Alyatama Jambi selaku UPTD Kementrian Sosial RI untuk menyelesaikan permasalahan listrik di Pematang Kejumat tersebut. Hasil komunikasi itu pada akhirnya membuahkan hasil, dengan kesediaan Balai Alyatama Jambi untuk membantu biaya pemasangan listrik baru bagi warga SAD. Pundi Sumatra pun segera diminta melengkapi berkas, mengajukan proposal ke balai Alyatama sebagai dasar bagi mereka dalam memberikan dukungan program.

Kini Teraliri Listrik

Memasuki bulan Januari 2024, usai semua syarat NIDI, SLO, dan instalasi jaringan rumah warga terpenuhi. Pihak PLN mulai melakukan pemasangan tiang, pengadaan Gardu listrik dan pemasangan jalur listrik hingga ke lokasi pemukiman warga. Selanjutnya saat proposal dan berkas pengajuan ke Balai Alyatama juga dinyatakan lengkap, pada 8 Maret 2024 lalu pihak Balai Alyatama melakukan pembayaran biaya pemasangan Listrik baru tersebut dan 2 hari setelahnya meteran listrik 900 kWh subsidi pemerintah pun telah terpasang. Kini komunitas SAD di Pematang Kejumat telah bisa menikmati penerangan listrik, sebagaimana warga desa sekitarnya.

Pemasangan instalasi listrik di lokasi. Dok: Pundi Sumatra.
Pemasangan instalasi listrik di lokasi. Dok: Pundi Sumatra.

Dengan adanya fasilitas listrik tersebut, Aladin, Toher Juli, Meti, Rasti, dan anak-anak lain yang telah bersekolah; bisa belajar tanpa pencahayaan yang redup lagi karena cahaya lampu kini bisa menyinari seluruh ruangan dalam rumah kayu mereka.

“Kami bersyukur sekarang sudah bisa menikmati listrik, terima kasih pada semua pihak yang sudah membantu kami,” ujar Tumenggung Juray.

Toto Macau