Pundi Sumatra Ajak Masyarakat Lokal Kembangkan Agroforestry Guna Meningkatkan Penyerapan Emisi Karbon - Pundi Sumatra
Pundi Sumatra Ajak Masyarakat Lokal Kembangkan Agroforestry Guna Meningkatkan Penyerapan Emisi Karbon

Pundi Sumatra Ajak Masyarakat Lokal Kembangkan Agroforestry Guna Meningkatkan Penyerapan Emisi Karbon

Aktivitas sehari-hari manusia, seperti penggunaan listrik dan kendaraan bermotor tidak disadari meninggalkan jejak karbon yang berdampak cukup signifikan dalam merugikan lingkungan. Emisi gas rumah kaca, terutama karbon dioksida, serta polutan lainnya, menghasilkan dampak negatif berupa iklim ekstrim dan penurunan kualitas udara. Iklim ekstrim seperti perubahan pola cuaca juga berakibat cukup fatal pada usaha pertanian dan keamanan pangan masyarakat. Upaya untuk mengurangi emisi karbon dan gas rumah kaca menjadi salah satu kunci dalam memitigasi dampak-dampak tersebut untuk menjaga keberlanjutan lingkungan serta kualitas kehidupan manusia.

Keresahan akan situasi ini, membuka jalan bagi Pundi Sumatra untuk membangun kolaborasi dengan PT. Jejak Enviro Teknologi yang dikenal dengan program Jejak.in, untuk mendorong pengembangan kegiatan Agroforestry oleh masyarakat lokal pada beberapa desa di Provinsi Jambi, pada lahan-lahan milik masyarakat yang secara tidak langsung menjadi bentuk partisipasinya dalam menurunkan emisi gas rumah kaca tersebut.

Agroforestri ini sebagai praktek dari pertanian berkelanjutan. karena disamping memiliki kontribusi produksi yang nyata dan beragam, juga memiliki fungsi konservatif terhadap lingkungan maupun keadaan sosial. Agroforestry dapat menjamin tumbuhnya ekonomi yang lebih luas dan keamanan pangan yang lebih tinggi,” ujar Damsir selaku koordinator.

Hingga saat ini ada 10.767 batang bibit yang terdiri dari dari jenis pinang, mangga, nangka, jengkol, alpukat, dan kulit manis yang sudah ditanam. Pilihan jenis tanaman tersebut, merupakan hasil kesepakatan dengan Masyarakat. “Warga sangat antusias dengan kegiatan penanaman ini, karena yang diberikan adalah bibit berlabel atau berkualitas”, ujar Ariansyah selaku fasilitator lapangan.

Penanaman bibit tersebar pada luasan lahan mencapai 40 Ha, yang di sisip pada tanaman kopi maupun tanaman semusim milik warga, Bahkan terdapat satu desa yang ikut mengalokasikan tanah kas desanya untuk ditanam jenis bibit MPTS (Multy Purpose Tree Species) tersebut, agar hasil ekonomi dari tanaman itu nantinya; dapat memberi income tambahan untuk kas desanya.  Penanaman yang telah berlangsung sejak akhir tahun 2023 lalu, kini memasuki tahap tagging pada bibit sebagai mekanisme pemantauan akan pertumbuhan bibit-bibit yang ditanam.

Salah Satu Lokasi Penanaman di Sekitar Area Kebun Warga. Dok. Pundi Sumatra
Salah Satu Lokasi Penanaman di Sekitar Area Kebun Warga. Dok. Pundi Sumatra

Dalam program Agroforestri ini, ada lima desa yang menjadi lokasi penanaman, diantaranya adalah lokasi sekitar pemukiman Suku Anak Dalam (SAD) di Kecamatan Bathin VIII Kabupaten Sarolangun (18 KK), serta Desa Talang Asal (403 KK), Desa Tuo (4.412 KK), Desa Tanjung Berugo (293 KK), dan Desa Talang Paruh (21 KK), Kecamatan Lembah Masurai, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi.

Empat desa yang terletak di Kecamatan Lembah Masurai, selama ini adalah hamparan kebun kopi masyarakat Marga Peratin Tuo yang berada di sekitar buffer zone Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). “Sudah banyak penelitian dilakukan, yang memberikan hasil bahwa penyerapan karbon dengan pola agroforestry lebih tinggi dibanding dengan pola monokultur,” ujar Damsir.

Proses Pendekatan Kepada Masyarakat

Sebelum program penanaman ini berlangsung, tentunya Pundi Sumatra melakukan studi awal dan assessment di beberapa lokasi. Tidak hanya memastikan ketersediaan lahan, namun yang lebih penting adalah memastikan kesediaan masyarakat untuk menanam dan memelihara bibit dari program tersebut.

Sosialisasi awal dan pendataan potensi lahan, serta assessment kebutuhan bibit sudah berlangsung sejak Bulan Juni di lokasi pemukiman dan lahan usaha Komunitas Suku Anak Dalam (SAD) di Pematang Kejumat Kecamatan bathin VIII Kabupaten Sarolangun.

Diskusi Awal Bersama Komunitas Adat SAD di Aula. Dok. Pundi Sumatra
Diskusi Awal Bersama Komunitas Adat SAD di Aula. Dok. Pundi Sumatra

Dari hasil diskusi dengan masyarakat adat tersebut, komunitas menginginkan jenis bibit yang bisa bermanfaat secara ekonomi jangka panjang bagi warganya sehingga disepakatilah jenis bibit seperti pinang,  mangga, nangka, dan jengkol yang akan ditanam justru di sekitar lokasi pemukiman SAD. Realisasi kegiatan penanaman ini sendiri telah berlangsung pada awal Desember 2023 lalu, dengan total 830 batang bibit yang berhasil ditanam.

Hal yang sama juga dilakukan tim Pundi Sumatra dengan 4 desa di Kecamatan Jangkat Kabupaten Merangin. Setelah proses sosialisasi dan warga menerima rencana kegiatan penanaman, dilaksanakan kembali musyawarah untuk menyusun kesepakatan aturan main dalam program tersebut yang membahas secara detail tentang hak dan kewajiban kedua belah pihak dalam konteks kerjasama ini. Bulir – bulir kesepakatan yang dibahas, kemudian ditandatangani oleh warga desa sebagai bentuk komitmen bersama sekaligus menjadi tools monitoring atas pelaksanaan program nantinya.

Koordinasi dengan Pemerintah Desa. Dok. Pundi Sumatra
Koordinasi dengan Pemerintah Desa. Dok. Pundi Sumatra

Untuk mengawal pelaksanaan kegiatan penanaman dan monitoring lapangan, kita juga menempatkan satu fasilitator di setiap lokasi program. Fasilitator ini juga berperan untuk membangun koordinasi yang baik dengan pemerintah desa serta kecamatan, agar program sepenuhnya mendapat dukungan pemerintah setempat, ” tutur Dewi selaku CEO Pundi Sumatra. Peran fasilitator lapangan sangat berfungsi melakukan monitoring secara berkala dalam memantau pertumbuhan dan kendala bibit di lapangan serta memfasilitasi pertemuan-pertemuan kelompok dan juga mengkoordinasikan kegiatan dengan para pihak mulai pemerintahan desa dan kecamatan.

Proses Pendampingan Masyarakat

Setelah proses penanaman dan tagging bibit, dari hasil monitoring yang berlangsung, diketahui jika masyarakat desa membutuhkan bantuan berupa alat pembersih rumput dan pupuk untuk proses pemeliharaan bibit. Menurut Ari selaku fasilitator lapangan, kebutuhan pupuk dapat membantu bibit dapat tumbuh dengan subur.

Setelah melakukan pemantauan selama sebulan, perkembangan bibit pasca tanam adalah 95% bibit dinyatakan hidup dan tumbuh dengan baik, sedang 5% terpantau rusak karena hama babi  yang cukup banyak melintas di sekitar kebun warga.

Aktivitas pemantauan perkembangan bibit yang telah di tagging. Dok. Pundi Sumatra
Aktivitas pemantauan perkembangan bibit yang telah di tagging. Dok. Pundi Sumatra

Agroforestri sama pentingnya dengan manfaat vegetasi lainnya di hutan alami. Harapannya selain kita mengurangi emisi karbon, kegiatan ini juga berpotensi meningkatkan perekonomian masyarakat dalam memanfaatkan hasil panen dari bibit yang ditanam,” tutur Damsir.

Lebih lanjut Damsir juga menyampaikan bahwa proses pendampingan yang dilakukan kepada kelompok masyarakat ini rencananya memiliki jangka waktu tiga tahun sampai bibit yang ditanam telah menghasilkan buah-buahan yang bisa dipanen oleh masyarakat.

Toto Macau