Membangun Empati dan Inklusi Sosial melalui Payo Bemalom Kito Bececakop

Membangun Empati dan Inklusi Sosial melalui Payo Bemalom Kito Bececakop

Debu jalan tanah berhamburan ketika mobil silver tipe Hiace Commuter yang ditumpangi tim Pundi Sumatra dan GEINSA perlahan berbelok dari jalan aspal ke jalan tanah. Mobil putih itu melaju perlahan di antara hamparan kebun sawit yang seolah tak berujung. Jalan tanah yang sempit membuat setiap kendaraan yang berpapasan menepi rapat ke pinggir, behati-hati agar tak saling menggores. Sekali ban roda mobil ini terperosok ke lumpur, meninggalkan jejak tebal di tanah liat yang selalu basah karena dilalui truk-truk pengangkut sawit. 

Begitulah perjalanan menuju pemukiman Suku Anak Dalam (SAD) di Pematang Kejumat, Kelurahan Limbur Tembesi, Kecamatan Bathin VIII, Kabupaten Sarolangun. Lokasinya memakan waktu sekitar 45 menit dari jalan lintas, tapi aksesnya tidak mudah. Rumah-rumah semi permanen berdiri di antara kebun sawit, semuanya berdinding papan dan beratap seng. Inilah tempat tinggal bagi 19 Kepala Keluarga SAD yang kini hidup berdampingan dengan warga transmigran yang datang ke Sumatra. 

Tim Pundi Sumatra bersama GEINSA (Generasi Inklusi Sanak) datang ke sini untuk melaksanakan kegiatan “Payo Bemalom Kito Bececakop”, sebuah ruang pertemuan lintas komunitas yang bertujuan menggali isu sosial budaya SAD, memperkuat jejaring pemuda, dan menumbuhkan pemahaman tentang inklusi sosial. 

Berdirinya GEINSA sebagai Jembatan Advokasi 

Kegiatan Payo Bemalom Kito Bececakop sendiri merupakan bagian dari rangkaian Youth Bootcamp yang digelar pada bulan September 2025 lalu. Kegiatan ini melibatlan peserta muda yang sebagian besar merupakan mahasiswa dari berbagai kampus di Jambi. Kegiatan ini merupakan dukungan dari Kemitraan Partnership dan Indika Foundation dengan tujuan untuk menumbuhkan kesadaran sosial, politik, budaya, ekonomi, dan beragam isu keadilan inklusi lainya. 

Peserta yang bertahan hingga akhir program dapat tergabung dalam forum GEINSA, sebuah jaringan pemuda yang berkomitmen untuk membangun gerakan inklusi di tingkat komunitas. 

Sebagai penutup dari seluruh rangkaian pembelajaran, mereka diberi kesempatan untuk bertemu langsung dan menginap semalam bersama komunitas Suku Anak Dalam (SAD) di Pematang Kejumat. 

“Melalui kegiatan bemalom, para peserta bisa bececakop bersama SAD untuk memahami dan membahas realitas kehidupan masyarakat adat dari dekat, bukan hanya melalui teori, tetapi lewat pengalaman dan pengamatan langsung di lapangan,” tutur Tari selaku Manager Program Sudung Pundi Sumatra. 

Lebih lanjut, Tari juga menjelaskan bahwa melalui pendekatan yang partisipatif, para anggota GEINSA didorong untuk memahami realitas sosial secara langsung, mengembangkan empati, serta menerjemahkan pengetahuan mereka menjadi aksi nyata di masyarakat. 

Melalui perjumpaan semacam ini, GEINSA menegaskan posisinya sebagai jembatan advokasi. “Menghubungkan cerita-cerita dari komunitas lokal dengan ruang-ruang publik yang lebih luas. Dengan begitu, isu-isu yang sebelumnya hanya terdengar di pelosok kini mulai diangkat melalui narasi yang empatik dan berbasis pengalaman langsung anak muda,” tambahnya. 

Menelusuri Kehidupan Dan Kearifan Lokal Melaui Payo Bemalom

Para peserta bemalom diajak untuk menelusuri kehidupan sehari-hari masyarakat SAD yang sarat nilai kebersamaan dan kearifan lokal. Mereka tidak hanya datang sebagai pengamat, tetapi juga ikut terlibat langsung dalam berbagai aktivitas masyarakat. Mereka belajar memasak lemang, makanan tradisional yang dimasak dengan bambu dan api unggun.  Mereka juga melihat demonstrasi perbengkelan dan pembuatan cincin biji sawit yang dilakukan oleh komunitas SAD Rombong Juray. 

Selain pengalaman praktis, peserta juga melakukan wawancara dengan warga SAD untuk menggali lebih dalam tentang budaya, nilai-nilai sosial, dan perubahan yang sedang mereka alami. Dari hasil percakapan itu, muncul banyak refleksi tentang ketahanan, kemandirian, dan cara masyarakat adat menghadapi perubahan zaman dengan tetap menjaga identitasnya.

Bececakop berbagi pengetahuan tentang budaya, bahasa dan cara hidup komunitas. Foto : Annisa MK/Pundi Sumatra
Bececakop berbagi pengetahuan tentang budaya, bahasa dan cara hidup komunitas. Foto : Annisa MK/Pundi Sumatra

Pada malam harinya, para peserta bersama beberapa pemuda SAD berkumpul di halaman pemukiman. Mereka duduk melingkar mengelilingi api unggun. Malam itu mereka larut dalam kehangatan perjumpaan, mendengarkan alunan senandung tradisional SAD yang dibawakan oleh Cedas, salah satu pemuda komunitas. Nada-nada lembut dari senandung itu membawa cerita tentang hutan, kehidupan, dan kebersamaan yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat SAD.

“Saya rasa selama ini saya adalah manusia yang masih kurang memiliki rasa syukur, saya hanya bisa menggeluh, sementara saya melihat di luar sana ada, saudara kita di tengah tengah keterbatasannya dia menghadapi dengan ceria. Mereka tidak melupakan adat istiadat yang mereka anut secara turun temurun yang mereka terus lestarikan,” ungkap Yusril mahasiswa semester 7 dari UIN Jambi. 

Kegiatan Payo Bemalom Kito Bececakop menjadi pengalaman yang membuka mata dan hati, menghadirkan pembelajaran lintas budaya yang tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan empati dan rasa hormat terhadap kearifan lokal yang hidup di tengah komunitas SAD.