Petani Berperan dalam Upaya Mitigasi Iklim

Petani Berperan dalam Upaya Mitigasi Iklim

Petani di empat desa di Kecamatan Lembah Masurai, Kabupaten Merangin, tidak hanya menjadi tulang punggung perekonomian daerah, tetapi juga aktor kunci dalam upaya mitigasi perubahan iklim melalui praktik pertanian berkelanjutan.

Petani di Kecamatan Lembah Masurai, Kabupaten Merangin, merupakan tulang punggung perekonomian daerah yang sebagian besar bergantung pada sektor pertanian. Wilayah ini dikenal memiliki lahan yang subur dan mendukung pengembangan berbagai jenis komoditas, baik tanaman tahunan maupun tanaman semusim. Dengan ketinggian wilayah sekitar 540 meter di atas permukaan laut, sektor pertanian—khususnya hortikultura—menjadi sumber utama mata pencaharian masyarakat Kecamatan Lembah Masurai.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Merangin, produksi tanaman buah-buahan atau tanaman tahunan tertinggi pada tahun 2023 adalah alpukat, dengan total produksi mencapai 935 kuintal. Kecamatan Lembah Masurai sendiri terdiri dari 15 desa, di antaranya Desa Tanjung Berugo, Desa Tuo, Desa Talang Asal, dan Desa Talang Paruh yang menerima manfaat dari Program Jejakin bekerja sama dengan Pundi Sumatra.

Petani memiliki peran penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim melalui penerapan praktik pertanian berkelanjutan yang mampu mengurangi emisi gas rumah kaca sekaligus meningkatkan penyerapan karbon. Di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin nyata, para petani di empat desa di Kecamatan Lembah Masurai—Desa Tuo, Tanjung Berugo, Talang Paruh, dan Talang Asal—telah mengambil langkah konkret dalam upaya mitigasi iklim.
Melalui program pemberdayaan yang diinisiasi oleh Jejakin sebagai mitra Pundi Sumatra, para petani tidak hanya berkontribusi pada ketahanan pangan lokal, tetapi juga berperan dalam upaya global untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas petani dalam mengelola lahan secara berkelanjutan dan menurunkan emisi gas rumah kaca. Tim Jejakin dan Pundi Sumatra secara rutin melakukan monitoring setiap semester untuk memastikan praktik yang diterapkan berjalan sesuai rencana dan memberikan dampak positif.

Dalam program ini, para petani menanam berbagai komoditas seperti alpukat, jengkol, kayu manis, dan mangga dari bibit yang disalurkan berdasarkan kesepakatan bersama. Pemilihan komoditas tersebut dilakukan secara cermat. Alpukat memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus kemampuan menyerap karbon dioksida dalam jumlah signifikan. Jengkol dan kayu manis berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem serta meningkatkan kesuburan tanah. Sementara itu, mangga tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga membantu konservasi air melalui sistem perakaran yang dalam.
Sebanyak 10.767 bibit yang telah ditanam oleh petani dipantau pertumbuhannya setiap enam bulan oleh tim Pundi Sumatra. Pada kesempatan tersebut, petani juga menyampaikan berbagai kendala dan tantangan dalam sesi konsultasi untuk dikaji bersama dan dicarikan solusi, sehingga tanaman dapat tumbuh secara optimal.

Salah satu fokus utama program ini adalah penerapan praktik pertanian berkelanjutan melalui pendekatan agroforestri. Program ini mengajarkan petani untuk mengombinasikan penanaman pohon dengan tanaman pangan, sehingga produktivitas lahan meningkat sekaligus memperkuat penyerapan karbon. Upaya ini telah menunjukkan dampak positif terhadap lingkungan. Penanaman pohon alpukat dan kayu manis, misalnya, membantu meningkatkan penyerapan karbon dioksida, salah satu gas rumah kaca utama. Selain itu, praktik pertanian berkelanjutan yang diterapkan turut menjaga kesuburan tanah dan mengurangi risiko erosi yang kerap terjadi di wilayah perbukitan seperti Lembah Masurai.

Selain manfaat lingkungan, program agroforestri ini juga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi petani. Penanaman komoditas bernilai jual tinggi seperti alpukat dan mangga mendorong peningkatan pendapatan petani. Hal ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan keluarga petani, tetapi juga menjadi insentif untuk terus menerapkan praktik pertanian berkelanjutan. Peningkatan pendapatan tersebut membuka peluang bagi petani untuk berinvestasi pada teknologi pertanian yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Meski demikian, petani di Lembah Masurai masih menghadapi berbagai tantangan, seperti ketidakpastian iklim, serangan hama, dan keterbatasan akses terhadap teknologi pertanian modern. Dengan dukungan berkelanjutan dari Jejakin dan Pundi Sumatra, termasuk pemberian reward setiap semester bagi petani yang merawat tanaman dengan baik, komitmen petani terus terjaga untuk mengatasi tantangan tersebut.

Petani di empat desa di Kecamatan Lembah Masurai, Kabupaten Merangin, Jambi, telah menunjukkan bahwa komunitas lokal mampu mengambil peran strategis dalam mitigasi perubahan iklim. Melalui program pemberdayaan yang diinisiasi oleh Jejakin dan Pundi Sumatra, upaya ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat, tetapi juga berkontribusi pada agenda global pengendalian perubahan iklim. Dengan terus menerapkan praktik pertanian berkelanjutan dan beradaptasi terhadap tantangan yang ada, para petani ini menjadi contoh nyata peran masyarakat lokal dalam menjaga kelestarian lingkungan.