Habis Gelap Terbitlah Terang
Habis gelap terbitlah terang menjadi kiasan yang begitu akrab, dikenalkan oleh Ibu kita R.A. Kartini dan terus kita gaungkan setiap tahunnya. Kalimat ini terasa begitu hangat bagi kita sebagai perempuan, seolah menjadi pengingat bahwa di balik setiap keterbatasan, akan selalu ada harapan untuk perubahan dan ruang untuk tumbuh. Dari sepenggal makna itu, kita percaya bahwa setelah gelap akan ada terang, setelah luka akan ada pemulihan dan bahagia.
Hal ini terasa dekat ketika kita melihat perubahan dalam diri kita sendiri. Namun, cerita itu tidak selalu sama bagi perempuan terutama bagi anak perempuan di komunitas Suku Anak Dalam.
Dulu, banyak anak perempuan tumbuh dalam ruang yang sudah ditentukan. Sejak kecil, mereka sudah mengetahui siapa jodohnya, kapan mereka akan menikah, dan bagaimana jalan hidup yang harus mereka jalani. Masa kecil mereka berjalan cepat berlalu bukan karena mereka ingin tumbuh dewasa, tapi karena keadaan yang mendorong mereka untuk segera sampai ke fase itu.
Mereka hidup di hutan, jauh dari akses luar. Pilihan terasa sempit. Pendidikan bukan menjadi prioritas, yang menjadi prioritas adalah bagaimana mereka bisa makan, hidup dan bertahan hingga hari esok. Suara anak perempuan jarang didengar dalam pengambilan keputusan. Hidup mereka mengikuti alur yang diwariskan: patuh pada adat, menjaga kehormatan keluarga, dan menikah di usia yang sangat muda.
Gelap dalam konteks ini bukan berarti tanpa nilai. Tapi gelap adalah tentang keterbatasan pada ruang yang sempit untuk bermimpi, belajar, dan menentukan masa depan sendiri. Seperti berjalan dalam pandangan yang buram, melangkah tanpa benar-benar tahu ke mana arah yang diinginkan.
Namun perlahan, terang itu mulai muncul.
Sekarang, di beberapa komunitas, perubahan mulai terasa. mereka sudah tidak tinggal hidup, sudah ada rumah tempat tinggal dan penghidupan yang cukup. Anak perempuan mulai mengenal pendidikan, meskipun dari hal-hal sederhana. Mereka belajar membaca, menulis, dan mulai berani berbicara tentang hal-hal yang dulu tidak pernah mereka ungkapkan. Mereka mulai mengenal cita-cita, memahami masa depan, dan perlahan menyadari bahwa hidup bisa memiliki pilihan.
Dalam proses ini, peran pendamping menjadi sangat penting. Menjadi pendamping bukan hanya tentang datang dan mengajarkan, tapi tentang mendengarkan dan membuka ruang. Karena pada dasarnya, banyak dari mereka tidak terbiasa mengungkapkan isi hati. Mereka tidak akan langsung bercerita, kecuali kita benar-benar hadir dan menggali dengan penuh kesabaran.
Menjadi jembatan itulah peran yang sebenarnya.
Anak perempuan tidak lagi hanya dipersiapkan untuk menikah, tetapi juga diajak memahami bahwa mereka punya hak untuk bertumbuh, belajar, dan bahkan menunda keputusan besar dalam hidup mereka.
Ada satu cerita yang masih sangat membekas.
Namanya Sinta, Usianya sudah beranjak remaja menuju dewasa tapi saat ini dia masih menempuh pendidikan sekolah dasar, minimnya akses beberapa tahun lalu membuat dia terlambat masuk sekolah. Jika melihat dari proses yang ia jalani, ada banyak hal yang belum sempat ia kenal di masa kecilnya. Suatu waktu, ada seorang laki-laki yang ingin mempersuntingnya.
Dalam komunitas Suku Anak Dalam, terdapat istilah “budak jenton meng’inai u’ang be’anak betina”. Istilah ini merujuk pada seorang laki-laki yang ingin menikahi perempuan, di mana ia harus menunjukkan kesungguhan dengan memberikan sebagian hasil kerjanya kepada keluarga pihak perempuan. Tradisi ini telah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian penting dari adat dalam kehidupan Suku Anak Dalam.
Ketika aku pertama kali mendengar hal ini, perasaanku campur aduk. Ada pertanyaan, ada kegelisahan. Tapi di saat yang sama, aku sadar posisiku adalah sebagai pendamping, bukan sebagai hakim.
Suatu hari, Sinta bercerita, Tidak dengan suara keras. Tidak juga dengan kalimat yang rapi. Tapi dari matanya, aku tahu ada sesuatu yang ingin disampaikan.
“Aku belum mau,” katanya pelan. Kalimat itu sederhana, tapi berat. Karena di baliknya ada adat, ada keluarga, ada harapan orang lain yang harus dihadapi. Aku tidak langsung menegur orang tuanya. Aku memilih untuk mendampingi Sinta, lebih dulu mendengarkan, menguatkan, dan perlahan membuka ruang agar suaranya bisa sampai. Sinta mulai bercerita kepadaku. Pelan, hampir seperti berbisik. Ia bilang bahwa ia tidak ingin menikah di usia itu. Ia masih ingin sekolah. Kalimatnya sederhana, tapi aku tahu, keberanian untuk mengucapkannya tidak sederhana.
Saat itu aku hanya mengatakan satu hal, “Kamu tetap tenang, dan kamu harus terus rajin sekolah. Tunjukkan ke orang tuamu kalau kamu sungguh-sungguh. Dari situ, mungkin mereka akan berpikir ulang.”
Aku tidak langsung bergerak. Aku memilih diam sejenak. Bukan karena tidak peduli, tapi karena aku takut—takut jika langkahku justru membuat Sinta disalahkan. Takut jika orang tuanya menganggap Sinta mengadu, lalu memarahinya. Padahal posisiku hanya sebagai pendengar.
Beberapa hari kemudian, aku mencoba cara lain. Sore itu, aku datang ke rumah mama Sinta. Duduk santai, seperti biasa. Aku mulai bercerita tentang Sinta.
Aku cerita bagaimana akhir-akhir ini Sinta banyak membantuku dalam kegiatan komunitas. Bagaimana ia ikut terlibat dalam kegiatan posyandu, menemaniku ke kantor desa untuk koordinasi, bahkan ikut dalam kegiatan study tour ke kampus di kabupaten.
Aku bilang, “Dengan adanya Sinta, aku merasa sangat terbantu. Aku jadi lebih nyaman menjalankan kegiatan di sini.” Aku sengaja menyampaikan itu dengan tulus—karena memang itu yang aku rasakan. Aku tidak langsung membahas soal pernikahan. Sampai akhirnya, dengan hati-hati, aku berkata, “Sayang sekali, Ibung. kalau Sinta harus menikah cepat. Semoga dia bisa terus sekolah… sampai SMA saja pun sudah sangat bagus.”
Kalimat itu aku ucapkan pelan, tanpa menekan.
Sesekali, di pertemuan lain, aku juga menyelipkan obrolan ringan tentang risiko menikahkan anak di usia dini. Bahwa ada aturan hukum yang melindungi anak. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk membuka sudut pandang.
Hari-hari berlalu. Aku tidak tahu pasti apakah percakapan-percakapan kecil itu berpengaruh atau tidak.
Sampai suatu hari, kabar itu datang. Mama Sinta mengembalikan uang yang sebelumnya diberikan oleh laki-laki yang ingin mempersuntingnya.
Di komunitas mereka, itu bukan hal kecil. Itu adalah tanda penolakan. Artinya, pernikahan itu setidaknya untuk saat ini tidak jadi.
Aku terdiam cukup lama saat mendengarnya. Ada rasa lega. Ada haru. Ada bahagia yang sulit dijelaskan.
Aku tidak tahu, dari sekian banyak percakapan, bagian mana yang akhirnya menyentuh hati orang tua Sinta. Mungkin bukan hanya kata-kata. Mungkin juga karena mereka melihat sendiri kesungguhan Sinta.
Tapi satu hal yang pasti, sinta mulai berani. meski di rumahnya sendiri, ia masih dipaksa tunduk seperti bukan pemilik hidupnya sendiri tapi hari itu, Sinta mendapatkan kembali sedikit ruang untuk memilih.
Aku berharap keputusan ini bukan hanya sementara. Aku berharap ini menjadi awal bahwa Sinta bisa terus melangkah, belajar, dan tumbuh hingga benar-benar siap menentukan hidupnya sendiri.
Karena bagi Sinta, ini bukan sekadar penundaan pernikahan.
Ini adalah awal dari “terang” itu
terang yang akhirnya ia perjuangkan dengan suaranya sendiri.
Seperti pada potongan bait lagu “Berdansalah, Karir” milik Hindia.
“lakukan apa yang kau mau sekarang.”
Kalimat itu terasa seperti ajakan sederhana, tapi penuh makna. Ajakan untuk berani memilih, berani melangkah, dan berani menjadi diri sendiri hal yang dulu tidak selalu dimiliki oleh perempuan.
SELAMAT HARI KARTINI.
Untuk setiap perempuan yang masih berjuang menemukan terangnya,
dan untuk mereka yang hari ini sudah berani menyalakan cahayanya sendiri.
Habis Gelap Terbitlah Terang. oleh: Fasilitator Lapangan Ulvi Monica Aulia
