Kopi merupakan salah satu komoditas yang permintaannya terus meningkat di pasar. Konsumsi masyarakat Indonesia terhadap kopi juga semakin tinggi. Untuk memenuhi permintaan ini, ketersediaan produk harus selalu terjaga. Mengenai kenikmatan, tidak ada kata yang tepat menggambarkan rasa kopi sesungguhnya, karena setiap penikmat memiliki makna dan perspektif tersendiri. Kopi juga menjadi representasi gaya hidup kekinian dan modern bagi sebagian orang. Ini terlihat dari banyaknya coffee shop yang menjamur di seluruh nusantara. Coffee shop kini menjadi tempat favorit banyak orang dari berbagai kalangan dan tempat yang cukup eksis bagi kaum millennial.
Pada 28 Desember 2021 lalu Pundi Sumatra selaku faswil tengah-selatan TFCA-S menggagas sharing session berbentuk semi daring bertemakan “Ngopi Akhir Tahun” di salah satu coffee shop di Jambi. Diskusi ini mengajak masyarakat umum, khususnya generasi muda penikmat kopi mendengarkan langsung cerita awal mula kopi itu di petik, lalu di produksi hingga menjadi sebuah produk yang dikemas dengan berbagai nama brand yang kemudian di pasarkan ke berbagai penjuru wilayah Indonesia. Kegiatan semi daring ini menghadirkan tiga narasumber di antaranya Hendro, petani kopi Sekincau dari Lampung, lalu Dodi, dari Serampas Kopi Kabupaten Merangin dan Andre, seorang barista dari Swan Coffee Community Jambi.
Meskipun kami mengadakan acara di ruang terbuka, kami tetap melancarkan diskusi ini dengan responsif berkat dukungan dari tempat yang sejuk dan suasana alami sekitar. “Ngopi Akhir Tahun” berfungsi sebagai bentuk refleksi bagi pegiat dan penikmat kopi sambil menyimak cerita proses perjalanan kopi dari hulu ke hilir. Kami mendengar banyak kisah perjuangan masyarakat petani kopi yang tinggal di sekitar kawasan hutan penyangga Taman Nasional. Mereka berupaya melindungi bentang alam di pulau Sumatera melalui aktivitas konservasi.
Kisah pertama datang dari Hendro, petani kopi asal Sekincau Lampung. Ketertarikan Hendro terhadap kopi bermula sejak kepergiannya merantau. Pada tahun 2011, Hendro memanfaatkan lahan kebun milik orang tua dengan menanam 2.500 batang bibit kopi. Sadar akan keterbatasan ilmunya dalam pertanian, Hendro terus meningkatkan pengetahuan melalui berbagai penyuluhan hingga memutuskan untuk menjadi petani kopi. Dalam mengelola lahan kebun kopi seluas 1 hektar, Hendro melakukan perawatan yang sederhana. Ia lebih menekankan pada pemberian pupuk yang harus dipastikan tidak telat untuk meningkatkan produktivitas tanaman. Hendro mengolah biji kopi setelah panen, mulai dari penjemuran hingga membentuk biji kering, dan kemudian menjualnya ke pengepul di daerahnya. Dalam setahun, Hendro memperoleh hasil panen rata-rata antara 6-8 kuintal, meskipun hasil ini sangat bergantung pada cuaca.
Dari Kabupaten Merangin, Dodi menyampaikan bahwa para petani kopi Desa Rantau Kermas awalnya menghadapi kesulitan dalam menghasilkan biji kopi terbaik yang dikenal saat ini. Mereka menghadapi tantangan dan hambatan dalam proses produksi di hulu, seperti minimnya pengetahuan dan terbatasnya alat yang memadai. Tidak adanya sosok pemimpin yang kuat juga mempengaruhi upaya menyatukan pemikiran masyarakat petani kopi desa Rantau Kermas. Dodi, yang sudah aktif dalam kegiatan sosial masyarakat, akhirnya bergabung dalam pengelolaan rumah produksi Serampas Kopi yang dibentuk BUMDES. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai membenahi keterbatasan bersama, sehingga perlahan-lahan mereka dapat mengatasi kendala. Usaha ini juga mendapatkan bantuan melalui berbagai penyuluhan serta dukungan pendanaan.
Di awal tahun 2021 lalu petani kopi robusta desa Rantau Kermas mendapat sertifikat indikasi geografis terkait pengakuan kopi robusta yang berasal dari Sumatera di Kabupaten Merangin Provinsi Jambi. Pengakuan ini adalah bentuk apresiasi bagi petani kopi di hulu dalam mengolah biji kopi berkualitas. Kopi serampas menjadi brand yang cukup dikenal di tengah masyarakat, meskipun usianya masih tergolong muda dalam kancah perkopian di Jambi, akan tetapi iklim pasar Serampas kopi sudah cukup terbentuk hingga menembus pasar Kalimantan. Dengan aroma robusta yang datang dari dataran tinggi bukit barisan ini, membuat kopi robusta Merangin menyajikan cita rasa berbeda dari kopi lainnya.
Cerita ini tentu nya bersambung dengan para pegiat kopi di bagian Hilir, seorang barista bernama Andre yang juga aktif di Swan Coffee Community mengakui bahwa kopi yang datang dari hulu tidak lagi di olah sedemikiannya, karena kebanyakan pelaku usaha di hilir sudah menerima hasil kopi yang telah di sangrai, sehingga proses selanjutnya tinggal memaksimalkan dan sedikit diolah sesuai arah selera konsumen. Di provinsi Jambi sendiri rata-rata ada dua varietas kopi yang cukup populer di coffee shop yaitu kopi arabika dan robusta, akan tetapi kopi jenis robusta cukup laris karena paling dominan dijadikan bahan dasar dalam olahan kopi susu yang sedang diminati pasar.
Alasan ini mengacu pada karakteristik robusta yang dominasi rasanya pahit dan kecoklatan, ketika bercampur aren lebih pas dan di sukai konsumen. Pada kesimpulan nya diskusi semi daring ini bertujuan mewadahi pertemuan antara petani kopi di bagian hulu dan pegiat kopi di hilir untuk saling bertukar pikiran dan berbagi pengalaman dalam menjalin rantai ekonomi di bidang kopi, sekaligus bahan pembelajaran bersama khususnya antar para pelaku usaha tersebut yang saling berkaitan dan saling membutuhkan.