Implementasi Strategi Jangka Benah (SJB) di Desa Suo, Kecamatan Tebo, Provinsi Jambi, terus menunjukkan perkembangan. Program kolaboratif antara Pundi Sumatra dan WWF Indonesia ini, dirancang sebagai solusi jalan tengah atas keterlanjuran kebun kelapa sawit rakyat yang berada di kawasan hutan. Tujuannya adalah memulihkan fungsi ekosistem sekaligus menjaga stabilitas ekonomi masyarakat.
Secara legalitas, inisiatif tata kelola lahan di Desa Suo-Suo telah memiliki landasan hukum yang kuat sejak tahun 2018. Melalui SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), masyarakat setempat resmi mengantongi izin Perhutanan Sosial di bawah payung Koperasi Setia Jaya Mandiri (SJM) dan Koperasi Bungo Pandan (BP). Sebelum program SJB masuk, kebun sawit dikelola secara monokultur dengan keterbatasan akses terhadap bibit bersertifikat. Kondisi lahan podsolik yang relatif datar hingga landai di kawasan tersebut umumnya ditanami sawit berkerapatan tinggi, berkisar 120 hingga 130 batang per hektar dengan jarak tanam 8×9 meter atau 9×9 meter, sehingga membentuk tutupan tajuk yang sangat rapat.
Sebagai fondasi pelaksanaan program, pada pertengahan 2025 lalu, tim ahli melakukan studi kelayakan (feasibility study) biofisik dan sosial-ekonomi terhadap 17 demplot awal milik anggota koperasi. Pemetaan tutupan lahan dilakukan menggunakan teknologi drone untuk mendapatkan gambaran riil lanskap, mengingat wilayah ini merupakan bagian dari koridor penting Landscape Bukit Tiga Puluh Elephant Homerange.
Dari hasil studi kelayakan, terungkap bahwa kebun sawit rakyat di Desa Suo-Suo sudah memiliki modal keragaman hayati awal. Secara swadaya, petani telah mengintegrasikan tanaman kehutanan dan buah (MPTS) seperti jengkol, durian, petai, pinang, meranti, hingga gaharu. Melalui program SJB, diversifikasi komoditas ini kemudian diperluas secara terukur.
Petani secara realistis memilih untuk memprioritaskan jenis tanaman buah-buahan varietas unggul seperti durian, mangga, rambutan, jengkol, dan kelengkeng, di samping tanaman kayu seperti sengon, meranti, bulian, dan sungkai. Pilihan ini didasari oleh motivasi ekonomi yang kuat; tanaman buah dinilai lebih cepat menghasilkan, memiliki pasar yang jelas, dan perawatannya relatif mudah untuk menyokong pendapatan jangka pendek keluarga.
Studi kelayakan tersebut juga memetakan persepsi petani terhadap inovasi agroforestri sawit (penanaman sisipan). Secara umum, petani memiliki keterbukaan yang tinggi untuk mencoba dan mengevaluasi pola tanam baru ini di lahan mereka. Namun, karena mereka juga menyadari adanya tantangan teknis dalam merawat tanaman kayu di sela-sela sawit, peran Pundi Sumatra menjadi sangat krusial dalam menyediakan pendampingan teknis secara intensif di lapangan.
Memasuki periode laporan tahun 2025 hingga April 2026, area kerja pemulihan yang dikawal oleh Pundi Sumatra telah mencakup poligon pengembangan seluas 50 hektar. Lahan ini dikelola secara aktif oleh 24 petani dampingan. Rinciannya, Koperasi Bungo Pandan mengelola 38,5 hektar (17 petani) dan Koperasi Setia Jaya Mandiri mengelola 11,5 hektar (7 petani). Dari total luasan tersebut, area seluas 7,5 hektar dikhususkan sebagai Demplot Riset atau laboratorium lapangan untuk memantau interaksi pertumbuhan tanaman secara ilmiah.
Hingga saat ini, sebanyak 5.000 bibit pohon telah didistribusikan ke lahan masyarakat. MElalui pemantauan berkala, tercatat 4.381 batang pohon tumbuh dengan baik, menghasilkan angka keberhasilan tumbuh (Survival Rate) rata-rata sebesar 87%. Bibit yang mati akibat kendala lapangan langsung ditangani melalui proses penyulaman secara bertahap. Jika dirinci per komoditas, pohon Petai mencatatkan tingkat kelangsungan hidup tertinggi sebesar 93%, disusul oleh Meranti sebesar 87% (1.495 batang hidup), dan Durian sebesar 81% (1.970 batang hidup).
Proses monitoring ini dilakukan secara presisi dengan memanfaatkan aplikasi mobile Reconnect. Melalui aplikasi ini, tim lapangan dapat mencatat titik koordinat valid lokasi tanaman, memantau jumlah populasi secara real-time, mengidentifikasi kondisi kesehatan bibit, serta menghitung persentase kelangsungan hidup tanaman secara digital.
Meskipun menunjukkan tren positif, NH. Bestamir Arief selaku koordinator program menjelaskan beberapa tantangan yang dihadapi oleh tim SJB di tingkat tapak. Di antaranya adalah faktor cuaca panas ekstrem yang membuat tanah kering dan membatasi ketersediaan air, serta lambatnya proses penyediaan bibit karena kelompok tani menyemai tanaman secara mandiri dari biji. Selain itu, keterbatasan waktu dari sebagian petani juga mempengaruhi konsistensi partisipasi dalam beberapa kegiatan kelompok.
Namun, dari dinamika lapangan tersebut, Arief menarik beberapa pembelajaran penting dalam keberlanjutan tata kelola lahan di Provinsi Jambi. Menurutnya, pendekatan jangka benah memberikan paradigma baru yang lebih adil dalam penyelesaian keterlanjuran sawit di kawasan hutan.
“Transformasi ekologi yang inklusif melalui metode intercropping atau agroforestri sawit ini jauh lebih efektif secara ekologis dan lebih mudah diterima secara sosial oleh masyarakat dibandingkan pendekatan pengosongan lahan secara koersif. Selain memulihkan lingkungan, diversifikasi komoditas ini juga membangun ketahanan ekonomi transisi yang berfungsi sebagai jaring pengaman bagi petani kelapa sawit rakyat saat harga pasar fluktuatif,” ujar Arief.
Arief juga menekankan bahwa faktor legalitas dan kerja sama lintas sektor menjadi kunci utama keberlanjutan program di tingkat tapak. “Adanya jaminan legalitas dan perlindungan dari risiko kriminalisasi secara signifikan meningkatkan kesediaan petani untuk mematuhi aturan perlindungan lingkungan. Pada akhirnya, Jangka Benah mutlak membutuhkan sinergi multi-pihak yang solid antara Pemerintah, petani, lembaga swadaya seperti Pundi Sumatra dan WWF, serta dukungan keilmuan dari mitra akademis seperti UGM, UNJA, UB, dan UPR,” pungkasnya.