Menceritakan Buku Melalui Boneka Tangan

Telling Books through Hand Puppets

Puluhan anak sudah berkumpul di aula desa Dwi Karya Bhakti, Kecamatan Pelepat, Kabupaten Bungo, Rabu pagi itu, 14 Oktober 2020. Cahaya matahari mengisi sebagian ruangan aula desa saat anak-anak desa setempat berbaur dengan adik-adik Suku Anak Dalam dari rombong Hari dan rombong Badai. Dari aula desa mereka diajak menuju lapangan, 2 orang kakak dari Kampung Dongeng Seloko, Jambi, memandu mereka berbaris mengambil posisi senam. Dengan mengenakan masker dan menjaga jarak, anak-anak desa dan adik-adik Suku Anak Dalam bersenam pagi sambil sesekali tertawa karena kelucuan spontan saat salah seorang dari mereka salah gerakan. Mereka juga diajak bersorak mengikuti gerakan dan irama senam, rindang pohon menaungi mereka di antara embusan angin.

Senam pagi hanyalah permulaan, pemanasan belaka. Kegiatan yang paling mereka tunggu ―karena sudah diberi tahu sebelumnya― adalah pertunjukan boneka tangan yang akan melakoni sebagian cerita dalam buku berjudul “Berkampung di Kelukup, Beradat ke Rimbo” karya Jhoni Imron, yang baru saja diluncurkan sehari sebelumnya di kantor Bappeda Kabupaten Bungo. Sebuah tas carrier teronggok di samping kursi plastik, adik-adik itu barangkali bertanya dalam hati: “Sebesar apa ukuran boneka tangan? Siapa saja namanya? Bagaimana bentuk rupanya, dan berapa banyakkah boneka tersebut muat dalam tas besar itu?”

Dua lembar tikar digelar di lapangan, seluruh adik-adik duduk mengambil posisi paling nyaman, seperti orang-orang kota memenuhi studio bioskop. Satu persatu lakon boneka tangan dikeluarkan dan memperkenalkan diri. Boneka tersebut berbicara, mengeluarkan suara khas yang lucu saat mulutnya bergerak, menanyakan nama dari adik-adik yang duduk di bagian paling depan. Adik-adik yang manis itu tersipu malu sambil menahan tawa, ingin menyebutkan nama tapi pita suara seperti enggan bergetar. Setelah suasana canggung sedikit demi sedikit mencair, maka cerita pun mulai mengalir.

Masing-masing boneka tangan melakoni perannya sesuai dengan isi buku “Berkampung di Kelukup, Beradat ke Rimbo.” Buku yang bercerita tentang falsafah hidup Suku Anak Dalam ―khususnya Rombong Hari― tersebut sengaja dituturkan lagi pada adik-adik Suku Anak Dalam agar mereka sebagai generasi penerus yang sudah berinklusi dengan warga desa dan sudah mengenal teknologi tidak lantas lupa dengan asal usul dan falsafah nenek moyang mereka. Lebih dari sekadar mengenal atau mengetahui, diharapkan generasi penerus Suku Anak Dalam tetap menjunjung tinggi, menghormati dan menerapkan filsafat dan kearifan budaya leluhur mereka.