{"id":5780,"date":"2026-04-24T16:52:57","date_gmt":"2026-04-24T09:52:57","guid":{"rendered":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/?p=5780"},"modified":"2026-04-24T16:52:57","modified_gmt":"2026-04-24T09:52:57","slug":"habis-gelap-terbitlah-terang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/en\/habis-gelap-terbitlah-terang\/","title":{"rendered":"Habis Gelap Terbitlah Terang"},"content":{"rendered":"<div class=\"vc_row wpb_row vc_row-fluid grop-dhav-dotted\"><div class=\"wpb_column vc_column_container text-left vc_col-sm-12\"><div class=\"vc_column-inner\"><div class=\"wpb_wrapper\">\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Habis gelap terbitlah terang menjadi kiasan yang begitu akrab, dikenalkan oleh Ibu kita R.A. Kartini dan terus kita gaungkan setiap tahunnya. Kalimat ini terasa begitu hangat bagi kita sebagai perempuan, seolah menjadi pengingat bahwa di balik setiap keterbatasan, akan selalu ada harapan untuk perubahan dan ruang untuk tumbuh. Dari sepenggal makna itu, kita percaya bahwa setelah gelap akan ada terang, setelah luka akan ada pemulihan dan bahagia.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Hal ini terasa dekat ketika kita melihat perubahan dalam diri kita sendiri. Namun, cerita itu tidak selalu sama bagi perempuan terutama bagi anak perempuan di komunitas Suku Anak Dalam.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Dulu, banyak anak perempuan tumbuh dalam ruang yang sudah ditentukan. Sejak kecil, mereka sudah mengetahui siapa jodohnya, kapan mereka akan menikah, dan bagaimana jalan hidup yang harus mereka jalani. Masa kecil mereka berjalan cepat berlalu bukan karena mereka ingin tumbuh dewasa, tapi karena keadaan yang mendorong mereka untuk segera sampai ke fase itu.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Mereka hidup di hutan, jauh dari akses luar. Pilihan terasa sempit. Pendidikan bukan menjadi prioritas, yang menjadi prioritas adalah bagaimana mereka bisa makan, hidup dan bertahan hingga hari esok. Suara anak perempuan jarang didengar dalam pengambilan keputusan. Hidup mereka mengikuti alur yang diwariskan: patuh pada adat, menjaga kehormatan keluarga, dan menikah di usia yang sangat muda.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Gelap dalam konteks ini bukan berarti tanpa nilai. Tapi gelap adalah tentang keterbatasan pada ruang yang sempit untuk bermimpi, belajar, dan menentukan masa depan sendiri. Seperti berjalan dalam pandangan yang buram, melangkah tanpa benar-benar tahu ke mana arah yang diinginkan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Namun perlahan, terang itu mulai muncul.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Sekarang, di beberapa komunitas, perubahan mulai terasa. mereka sudah tidak tinggal hidup, sudah ada rumah tempat tinggal dan penghidupan yang cukup. Anak perempuan mulai mengenal pendidikan, meskipun dari hal-hal sederhana. Mereka belajar membaca, menulis, dan mulai berani berbicara tentang hal-hal yang dulu tidak pernah mereka ungkapkan. Mereka mulai mengenal cita-cita, memahami masa depan, dan perlahan menyadari bahwa hidup bisa memiliki pilihan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam proses ini, peran pendamping menjadi sangat penting. Menjadi pendamping bukan hanya tentang datang dan mengajarkan, tapi tentang mendengarkan dan membuka ruang. Karena pada dasarnya, banyak dari mereka tidak terbiasa mengungkapkan isi hati. Mereka tidak akan langsung bercerita, kecuali kita benar-benar hadir dan menggali dengan penuh kesabaran<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\"><b>Menjadi jembatan itulah peran yang sebenarnya.<\/b><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Anak perempuan tidak lagi hanya dipersiapkan untuk menikah, tetapi juga diajak memahami bahwa mereka punya hak untuk bertumbuh, belajar, dan bahkan menunda keputusan besar dalam hidup mereka.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Ada satu cerita yang masih sangat membekas.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Namanya Sinta, Usianya sudah beranjak remaja menuju dewasa tapi saat ini dia masih menempuh pendidikan sekolah dasar, minimnya akses beberapa tahun lalu membuat dia terlambat masuk sekolah. Jika melihat dari proses yang ia jalani, ada banyak hal yang belum sempat ia kenal di masa kecilnya. Suatu waktu, ada seorang laki-laki yang ingin mempersuntingnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam komunitas Suku Anak Dalam, terdapat istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cbudak jenton meng\u2019inai u\u2019ang be\u2019anak betina\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Istilah ini merujuk pada seorang laki-laki yang ingin menikahi perempuan, di mana ia harus menunjukkan kesungguhan dengan memberikan sebagian hasil kerjanya kepada keluarga pihak perempuan. Tradisi ini telah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian penting dari adat dalam kehidupan Suku Anak Dalam.<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Ketika aku pertama kali mendengar hal ini, perasaanku campur aduk. Ada pertanyaan, ada kegelisahan. Tapi di saat yang sama, aku sadar posisiku adalah sebagai pendamping, bukan sebagai hakim.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Suatu hari, Sinta bercerita, Tidak dengan suara keras. Tidak juga dengan kalimat yang rapi. Tapi dari matanya, aku tahu ada sesuatu yang ingin disampaikan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAku belum mau,\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> katanya pelan. Kalimat itu sederhana, tapi berat. Karena di baliknya ada adat, ada keluarga, ada harapan orang lain yang harus dihadapi. Aku tidak langsung menegur orang tuanya. Aku memilih untuk mendampingi Sinta, lebih dulu mendengarkan, menguatkan, dan perlahan membuka ruang agar suaranya bisa sampai. Sinta mulai bercerita kepadaku. Pelan, hampir seperti berbisik. Ia bilang bahwa ia tidak ingin menikah di usia itu. Ia masih ingin sekolah. Kalimatnya sederhana, tapi aku tahu, keberanian untuk mengucapkannya tidak sederhana.<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Saat itu aku hanya mengatakan satu hal, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKamu tetap tenang, dan kamu harus terus rajin sekolah. Tunjukkan ke orang tuamu kalau kamu sungguh-sungguh. Dari situ, mungkin mereka akan berpikir ulang.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Aku tidak langsung bergerak. Aku memilih diam sejenak. Bukan karena tidak peduli, tapi karena aku takut\u2014takut jika langkahku justru membuat Sinta disalahkan. Takut jika orang tuanya menganggap Sinta mengadu, lalu memarahinya. Padahal posisiku hanya sebagai pendengar.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Beberapa hari kemudian, aku mencoba cara lain. Sore itu, aku datang ke rumah mama Sinta. Duduk santai, seperti biasa. Aku mulai bercerita tentang Sinta.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Aku cerita bagaimana akhir-akhir ini Sinta banyak membantuku dalam kegiatan komunitas. Bagaimana ia ikut terlibat dalam kegiatan posyandu, menemaniku ke kantor desa untuk koordinasi, bahkan ikut dalam kegiatan study tour ke kampus di kabupaten.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Aku bilang, \u201cDengan adanya Sinta, aku merasa sangat terbantu. Aku jadi lebih nyaman menjalankan kegiatan di sini.\u201d Aku sengaja menyampaikan itu dengan tulus\u2014karena memang itu yang aku rasakan. Aku tidak langsung membahas soal pernikahan. Sampai akhirnya, dengan hati-hati, aku berkata, \u201cSayang sekali, Ibung. kalau Sinta harus menikah cepat. Semoga dia bisa terus sekolah\u2026 sampai SMA saja pun sudah sangat bagus.\u201d<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Kalimat itu aku ucapkan pelan, tanpa menekan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Sesekali, di pertemuan lain, aku juga menyelipkan obrolan ringan tentang risiko menikahkan anak di usia dini. Bahwa ada aturan hukum yang melindungi anak. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk membuka sudut pandang.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Hari-hari berlalu. Aku tidak tahu pasti apakah percakapan-percakapan kecil itu berpengaruh atau tidak.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Sampai suatu hari, kabar itu datang. Mama Sinta mengembalikan uang yang sebelumnya diberikan oleh laki-laki yang ingin mempersuntingnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Di komunitas mereka, itu bukan hal kecil. Itu adalah tanda penolakan. Artinya, pernikahan itu setidaknya untuk saat ini tidak jadi.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Aku terdiam cukup lama saat mendengarnya. Ada rasa lega. Ada haru. Ada bahagia yang sulit dijelaskan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Aku tidak tahu, dari sekian banyak percakapan, bagian mana yang akhirnya menyentuh hati orang tua Sinta. Mungkin bukan hanya kata-kata. Mungkin juga karena mereka melihat sendiri kesungguhan Sinta.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Tapi satu hal yang pasti, sinta mulai berani. meski di rumahnya sendiri, ia masih dipaksa tunduk seperti bukan pemilik hidupnya sendiri tapi hari itu, Sinta mendapatkan kembali sedikit ruang untuk memilih.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Aku berharap keputusan ini bukan hanya sementara. Aku berharap ini menjadi awal bahwa Sinta bisa terus melangkah, belajar, dan tumbuh hingga benar-benar siap menentukan hidupnya sendiri.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Karena bagi Sinta, ini bukan sekadar penundaan pernikahan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Ini adalah awal dari \u201cterang\u201d itu<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">terang yang akhirnya ia perjuangkan dengan suaranya sendiri.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti pada potongan bait lagu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBerdansalah, Karir\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> milik Hindia.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201clakukan apa yang kau mau sekarang.\u201d<\/span><\/i><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Kalimat itu terasa seperti ajakan sederhana, tapi penuh makna. Ajakan untuk berani memilih, berani melangkah, dan berani menjadi diri sendiri hal yang dulu tidak selalu dimiliki oleh perempuan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000000;\"><b>SELAMAT HARI KARTINI.<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk setiap perempuan yang masih berjuang menemukan terangnya,<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">dan untuk mereka yang hari ini sudah berani menyalakan cahayanya sendiri.<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Habis Gelap Terbitlah Terang. oleh: Fasilitator Lapangan Ulvi Monica Aulia<\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n\n\t<div class=\"wpb_text_column wpb_content_element\" >\n\t\t<div class=\"wpb_wrapper\">\n\t\t\t<p><span style=\"color: #000000;\">Read more: <a style=\"color: #000000;\" href=\"https:\/\/pundisumatra.or.id\/en\/pertama-kali-menulis-kader-suku-anak-dalam-abadikan-perubahan-hidup-mereka-dalam-sebuah-buku\/\">Writing for the First Time, Anak Dalam Tribe Members Capture Their Life Changes in a Book<\/a><\/span><\/p>\n\n\t\t<\/div>\n\t<\/div>\n<\/div><\/div><\/div><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"Habis gelap terbitlah terang menjadi kiasan yang begitu akrab, dikenalkan oleh Ibu kita R.A. Kartini dan terus kita gaungkan setiap tahunnya. Kalimat ini terasa begitu hangat bagi kita sebagai perempuan, seolah menjadi pengingat bahwa di balik setiap keterbatasan, akan selalu ada harapan untuk perubahan dan ruang untuk tumbuh. Dari sepenggal makna itu, kita percaya bahwa ...","protected":false},"author":1,"featured_media":5781,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[20],"tags":[],"class_list":["post-5780","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Habis Gelap Terbitlah Terang - Pundi Sumatra<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Habis gelap terbitlah terang menjadi kiasan yang begitu akrab, dikenalkan oleh Ibu kita R.A. Kartini dan terus kita gaungkan setiap tahunnya\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/pundisumatra.or.id\/en\/habis-gelap-terbitlah-terang\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Habis Gelap Terbitlah Terang - Pundi Sumatra\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Habis gelap terbitlah terang menjadi kiasan yang begitu akrab, dikenalkan oleh Ibu kita R.A. Kartini dan terus kita gaungkan setiap tahunnya\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/pundisumatra.or.id\/en\/habis-gelap-terbitlah-terang\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Pundi Sumatra\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/PundiSumatera\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-04-24T09:52:57+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/pundisumatra.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/foto-website-2.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"pundisumatra\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@pundisumatera\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@pundisumatera\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"pundisumatra\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/habis-gelap-terbitlah-terang\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/habis-gelap-terbitlah-terang\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"pundisumatra\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c0ba42bf9d1e5437fde5a55c6d78a4f8\"},\"headline\":\"Habis Gelap Terbitlah Terang\",\"datePublished\":\"2026-04-24T09:52:57+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/habis-gelap-terbitlah-terang\\\/\"},\"wordCount\":1155,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/habis-gelap-terbitlah-terang\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/04\\\/foto-website-2.jpg\",\"articleSection\":[\"Berita\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/habis-gelap-terbitlah-terang\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/habis-gelap-terbitlah-terang\\\/\",\"name\":\"Habis Gelap Terbitlah Terang - Pundi Sumatra\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/habis-gelap-terbitlah-terang\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/habis-gelap-terbitlah-terang\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/04\\\/foto-website-2.jpg\",\"datePublished\":\"2026-04-24T09:52:57+00:00\",\"description\":\"Habis gelap terbitlah terang menjadi kiasan yang begitu akrab, dikenalkan oleh Ibu kita R.A. Kartini dan terus kita gaungkan setiap tahunnya\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/habis-gelap-terbitlah-terang\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/habis-gelap-terbitlah-terang\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/habis-gelap-terbitlah-terang\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/04\\\/foto-website-2.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/04\\\/foto-website-2.jpg\",\"width\":1200,\"height\":800,\"caption\":\"Habis Gelap Terbitlah Terang. oleh: Ulvi Monica Aulia\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/habis-gelap-terbitlah-terang\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Habis Gelap Terbitlah Terang\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/\",\"name\":\"Pundi Sumatra\",\"description\":\"Jembatan Antar Komunitas\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/#organization\",\"name\":\"Pundi Sumatra\",\"url\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/01\\\/Logo_Pundi.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/01\\\/Logo_Pundi.png\",\"width\":120,\"height\":68,\"caption\":\"Pundi Sumatra\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/PundiSumatera\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/pundisumatera\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/pundisumatra\\\/\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/channel\\\/UCXGUtByo6e8CSHtW48jvgXA\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c0ba42bf9d1e5437fde5a55c6d78a4f8\",\"name\":\"pundisumatra\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/0e204c555edf1c8ed6649d72844ea831cd45388547f999481ce200619c8ea426?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/0e204c555edf1c8ed6649d72844ea831cd45388547f999481ce200619c8ea426?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/0e204c555edf1c8ed6649d72844ea831cd45388547f999481ce200619c8ea426?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"pundisumatra\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/pundisumatra.or.id\"]}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Habis Gelap Terbitlah Terang - Pundi Sumatra","description":"Habis gelap terbitlah terang menjadi kiasan yang begitu akrab, dikenalkan oleh Ibu kita R.A. Kartini dan terus kita gaungkan setiap tahunnya","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/en\/habis-gelap-terbitlah-terang\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Habis Gelap Terbitlah Terang - Pundi Sumatra","og_description":"Habis gelap terbitlah terang menjadi kiasan yang begitu akrab, dikenalkan oleh Ibu kita R.A. Kartini dan terus kita gaungkan setiap tahunnya","og_url":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/en\/habis-gelap-terbitlah-terang\/","og_site_name":"Pundi Sumatra","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/PundiSumatera","article_published_time":"2026-04-24T09:52:57+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":800,"url":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/foto-website-2.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"pundisumatra","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@pundisumatera","twitter_site":"@pundisumatera","twitter_misc":{"Written by":"pundisumatra","Est. reading time":"7 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/habis-gelap-terbitlah-terang\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/habis-gelap-terbitlah-terang\/"},"author":{"name":"pundisumatra","@id":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/#\/schema\/person\/c0ba42bf9d1e5437fde5a55c6d78a4f8"},"headline":"Habis Gelap Terbitlah Terang","datePublished":"2026-04-24T09:52:57+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/habis-gelap-terbitlah-terang\/"},"wordCount":1155,"publisher":{"@id":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/habis-gelap-terbitlah-terang\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/foto-website-2.jpg","articleSection":["Berita"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/habis-gelap-terbitlah-terang\/","url":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/habis-gelap-terbitlah-terang\/","name":"Habis Gelap Terbitlah Terang - Pundi Sumatra","isPartOf":{"@id":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/habis-gelap-terbitlah-terang\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/habis-gelap-terbitlah-terang\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/foto-website-2.jpg","datePublished":"2026-04-24T09:52:57+00:00","description":"Habis gelap terbitlah terang menjadi kiasan yang begitu akrab, dikenalkan oleh Ibu kita R.A. Kartini dan terus kita gaungkan setiap tahunnya","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/habis-gelap-terbitlah-terang\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/pundisumatra.or.id\/habis-gelap-terbitlah-terang\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/habis-gelap-terbitlah-terang\/#primaryimage","url":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/foto-website-2.jpg","contentUrl":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/foto-website-2.jpg","width":1200,"height":800,"caption":"Habis Gelap Terbitlah Terang. oleh: Ulvi Monica Aulia"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/habis-gelap-terbitlah-terang\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Habis Gelap Terbitlah Terang"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/#website","url":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/","name":"Pundi Sumatra","description":"Jembatan Antar Komunitas","publisher":{"@id":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/#organization","name":"Pundi Sumatra","url":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/Logo_Pundi.png","contentUrl":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/wp-content\/uploads\/2021\/01\/Logo_Pundi.png","width":120,"height":68,"caption":"Pundi Sumatra"},"image":{"@id":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/PundiSumatera","https:\/\/x.com\/pundisumatera","https:\/\/www.instagram.com\/pundisumatra\/","https:\/\/www.youtube.com\/channel\/UCXGUtByo6e8CSHtW48jvgXA"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/#\/schema\/person\/c0ba42bf9d1e5437fde5a55c6d78a4f8","name":"pundisumatra","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0e204c555edf1c8ed6649d72844ea831cd45388547f999481ce200619c8ea426?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0e204c555edf1c8ed6649d72844ea831cd45388547f999481ce200619c8ea426?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0e204c555edf1c8ed6649d72844ea831cd45388547f999481ce200619c8ea426?s=96&d=mm&r=g","caption":"pundisumatra"},"sameAs":["https:\/\/pundisumatra.or.id"]}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5780","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5780"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5780\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5783,"href":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5780\/revisions\/5783"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5781"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5780"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5780"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pundisumatra.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5780"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}